Cerita Rakyat Lemang Batu

Senin, Agustus 10th - 2020
Home Cerpen Disparbud Cerita Rakyat Lemang Batu

Lemang Batu

Tokoh :

  1. Puyang Lemang Batu
  2. Puyang Tuan
  3. Puyang Putri
  4. Puyang Sanggahan
  5. Puyang Riye Maye

Jauh sebelum adanya Dusun Ujan Mas. Diseberang daerah terhampar dataran tinggi yang di sebut Bukit Salingan Tinggi. Tinggallah seorang laki laki bersama anak anaknya. Mereka sangat bahagia berada ditempat tanang dan penuh kedamaian. Laki-laki itu bernama Puyang Tuan dan tiga orang anak di karuniakan yang maha kuasa untuknya, mewarnai kebahagiaannya hidupnya yang terasa begitu indah. Anak pertama bernama Puyang Putri dan anak kedua bernama Puyang Sanggahan serta yang bungsu bernama Puyang Riye Maye.

Tapi apa yang hendak dikatakan, anaknya Puyang Riye Maye dalam usia muda dan belum berisitri. Tapi dia tidak mau terbui dalam kesedihan yang berlarut larut. Kenyataan ini diterimanya lapang dada, karena dia percaya sang pencipta memberikan cobaan untuk menguji keimanannya angin yang berhembus membelai pepohonan dan dedaunan, menyentuh tubuh Puyang Tuan yang sedang duduk sendirian. kicau burung yang merdu mengalunkan tembang kehidupan, seakan-akan ingin berbagi keceriaan dengan puyang Tuan terlihat tenggelam dalam lamunannya. dia tersentak dari Lamunan, manakala selembar daun yang tertiup angin menyentuh dirinya.

Puyang Tuan melihat kedua anak nya sedang bermain dengn ceria, tak terasa anak-anaknya telah beranjak remaja, dia melihat Puyang putri yang begitu riang gembira. bermain mengejar kupu-kupu yang berterbangan untuk ditangkap. di sini tanpa kejahilan yang sanggahan sebagai seorang adik, dengan manja mengusir kupu-kupu yang hendak ditangkap kakaknya. hal itu, tentu saja membuat sang kakak merasa kesal dan berbalik mengejar sang adik yang berlari sambil tertawa. melihat tingkah laku anak-anaknya puyang Tuan tidak dapat menahan tawa. meskipun mereka sudah menginjak remaja tetapi sifat kekanak kanakannya belum bisa dipisahkan dari mereka. Tak terasa ada yang tergenang membasahi pelupuk mataya, kemudian dia menghapus aira mata bahagia itu.

Nun jauh disana, pada saat peperangan terjadi di Bengkulu banyak orang yang pergi mengungsi untuk mencari perlindungan ke daerah lain untuk menyelamatkan diri. mencari daerah yang dianggap aman bagi kelangsungan hidup mereka, dengan cara berkelompok ataupun perorangan.

Pada saat terjadi kemelut di Bengkulu, ada seorang bernama Puyang Lemang Batu pergi meninggalkan daerah tersebut.

Dalam pengembarannya. Ia tidak menempuh perjalanan lewat darat, melainkan menempuh perjalanan dengan cara tersendiri. Puyang Lemang Batu dapat terbang dengan cara naik  Pelepah Niukh Gading ( pelepah kepala gading). Jarak tempuh yang sangat jauh dapat dicapai dalam waktu yang singkat. Semua ini dapat terjadi karena kesaktiannya. Banyak sudah daerah yang dilewatinya, namun belum juga bergerak hatinya untuk berlabuh.

 


Setelah sekian lama Puyang Lemang Batu tarbang tak tantu arah tujuan, kemudian dia memutuskan untuk mendarat disuatu tempat yang asing bagi dirinya. Disebuah dataran tinggi dia turun dari Pelepah Niukh Gading, untuk menetapkan kakinya ketanah. Suasana alam yang tenang dan menjanjikan kedamaian dapat ditemukannya disini.

Ternyata Puyang Lemang Batu berada didaerah Bukit Salingan Tinggi, dia mengira tempat ini tentu belum terjaman manusia. Mana mungkin  ada orang yang mau tinggal dan menetap ditempat sesunyi ini, dugaan dan pemikiran itulah yang sempat melintas dibenaknya. Puyang Lemang Batu merasakan rasa lelah mulai terasa ditubunhya, kemudian beralasan rereumpunan dia berbaring untuk berisitirahat dibawah pohon yang rindang.

Dari hari ke hari, perjalanan hidup dilewati oleh puyang Lemang batu.  tanpa terasa ia sudah berkeliling untuk mencari-cari permukiman di sekitar tempat itu namun sampai sekian lama harapannya itu belum juga terkabul ia merasa kesepian dengan kesendiriannya di hutan rimba dan rimbunnya semak belukar.

Dalam kesendiriannya, Puyang Lemang Batu meniup seruling sambil duduk diatas sebuah dahan Pohon Cikhu (Pohon Seru). Ia berusaha mengusir kesunyian yang senantiasa menemani dirinya. Suara sulingnya begitu merdu bergema di pepohonan dan dedaunan. penghuni hutan rimba bagaikan telinga mendengar alunan suara serulingnya sehingga kicau burung seirama menembangkan kidung yang indah

Di atas dahan Pohon Cikhu, Puyang Lemang Batu tenggelam dan hanyut dalam buaian irama seruling yang dimainkannya. Rambutnya yang panjang terurai  hampir menyentuh tanah di permainkan hembusan angin yang sepoi-sepoi.

Sekian lama Puyang Lemang Batu berada daerah Bukit Selingan Tinggi seperti hari-hari biasanya dia selalu berjalan mengelilingi sekitar tempatnya berada kemungkinan untuk dapat menjumpai permukiman di daerah tidaklah menghapuskan harapannya. Sampai pada suatu hari, disaat Puyang Lemang Batu sudah cukup jauh meninggalkan tempatnya, dari kejauhan terlihat sosok bayangan manusia yang sedang bermain sendirian. Perasan senang pun menggoda hatinya untuk bergerak melangkah lebih dekat.

Semakin dekat, jarak Puyang Lemang Batu dengan sosok tubuh yang sedari tadi diperlihatinya, kemudian dia bersembunyi dibalik sebatang pohon. Pandangan tidak lepas dari sosok itu, perasaan tak menentu kini berkecambuk dihatinya. Puyang Lemang Batu dapat melihat dengan lebih jelas dari persembunyiannya, tanpa dikatahui oleh sosok tubuh yang terus bermain dan tidak curiga bila ada orang yang memperhatikannya.

Ternyata, pemilik sosok itu adalah seorang gadis yang beranjak remaja, bagai bunga yang tengah merekah yang tumbuh dan hidup dihutan belantara. kulitnya yang putih dan rambut panjangnya terurai dipermainkan angin Senandung merdu mengalun indah dari bibir mungilnya. tawa renyahnya kadang Terdengar saat dia berlari-lari kecil mengejar kupu-kupu yang terbang, Kecerian sang gadis membuat kesan tersendiri dihati Puyang Lemang Batu. Tanpa sengaja sang gadis melihat kearah tempat Puyang Lemang Batu bersembunyi, pandangan mereka saling bertemu dan membuat Puyang Lemang Batu tersentak dari kekagumannya. Begitu mengetahui ada orang lain yang ada disitu selain dirinya, sang gadis sangat terkejut dan tidak menyangka sama sekali kalau ada sepasang mata mengawasinya.

Belum sempat Puyang Lemang Batu menyapa, dalam sekejap sang gadis telah menghilang dari hadapannya. perasaan menyesal tergores di hatinya, Mengapa dari tadi dia tidak menyapa sang gadis yang kini telah pergi. puyang Lemang batu berharap bukan sekedar halusinasinya mungkin suatu saat kelak mereka dapat bertemu lagi dan itulah yang terlintas di angannya.

Malam itu hujan gerimis membasahi tempat Puyang Lemang Batu bernaung. Matanya sulit untuk terpejam. Sejak pertemuannya bebrapa hari yang lalu dengan sang gadis itu, kini hatinya begitu gundah dan risau tak menentu. ada sebentuk damba melayang jauh dari khayalnya . Mengapa semua menjelma di setiap kesendirian? apakah hati ini telah terpaut pada pandangan pertama?

Setiap ada kerinduan yang datang menghampiri Puyang Lemang Batu, membuat hatinya gelisah ingin bertemu. Namun apa daya dia tak tahu siapa gerangan gadis itu dan dimana tempatnya. Sabagai pengobat rindu dan menepis kesunyian di hati, perasaan yang terpendam diungkapkan melalui suara seruling yang ditiupnya. Suara merdu sungling yang di mainkannya berkumandangan dan bergema terbawa angin, melintasi hutan rimba dan sampai keujung bukit yang berbatas langit.

Di bawah sebatang pohon rindang yang ada di depan tempat tinggalnya, duduk Puyang putri sambil menyandarkan tubuhnya. Tatapan matanya jauh menerawang entah kemana, perasaan hatinya tidak menentu akhir-akhir ini. Dia sering berdiam diri. Jiwanya resah serta gelisah, tanpa tahu apa yang menjadi penyebabnya. Dalam lamunan, terlintas wajah yang selalu hadir menjelma. Wajah yang belum begitu dikenalnya mengapa selalu datang mengganggu. Sehingga ada getar kerinduan membuat hati ingin bertemu

Sejak lamunan Puyang Putri terusik, ketika sayup-sayup terdengar suara seruling mengalun merdu yang terbawa angin. Hati Puyang Putri sangat tersentuh akan kesyaahduan irama dari seruling itu. Hal itu memunculkan keinginan bagi dirinya untuk mengetahui siapakah gerangan yang memeainkan seruling itu?

Sepanjang pengetahuan yang selama ini di Bukit Salingan Tinggi hanya tinggal dia sekeluarga tapi ternyata ada suara seruling yang dimainkan oleh seseorang sudah ada keluarga lain yang menetap dan tinggal di sini? Bisik nya dalam hati.  rasa penasaran yang ditimbulkan suara seruling tadi, membuat Puyang Putri ingin ssegera mengetahui dimana keberadaan orang yang meniup seruling tadi. Setelah mohon izin kepada Puyang Tuan  sebagai oran tuanya, berangatlah Puyang Putri seorang diri mencari dari mana asal suara seruling itu.

Dalam waktu yang singkat,  Puyang Putri sudah sampai sitempat asal suara seruling itu. Sesampainya disana secara perlahan-lahan dia melangkah. Supaya orang yang meniup seruling itu tidak mengetahui kedatangannya, apa lagi suara merdu dari seruling itu tetap mengalun dengan indahnya. Puyang Putri tidak ingin mengganggu sepeniup seruling itu, dia hanya ingin mengetahui siapa yang memainkannya.

Puyang Putri mengendap-endap dibalik rimbunnya semak belukar, lalu di sembunyi dibalik sebatang pohon. Dia perpikir dalam hati mudah-mudahan orang itu tidak mengetahui kedatangannya yang secara sembunyi-sembunyi ini.

Dilihat nya ada seorang pemuda tampan yang gagah dengan Rambut Panjang Sembilan, sedang duduk sambil  meniup seruling diatas sebuah dahan pohon cikhu. rambutnya yang panjang lepas terurai hampir menyentuh tanah inilah yang membuat puyang Putri merasa heran dan tidak mengerti. Pemuda ini tidak lain adalah Puyang Lemang Batu.

Tanpa disadari oleh Puyang putri, ternyata kehadirannya telah diketahui Puyang Lemang Batu sejak tadi. Puyang Lemang Batu sengaja berpura pura tidak mengetahuinya. Agar orang yang bersembunyi semakin mendekatinya. Rupanya siasat ini membawa hasil seperti yang diinginkan Puyang Lemang Batu.

Secara tiba-tiba Puyang Lemang Batu menoleh ke arah Puyang Putri yang tak sempat lagi untuk bersembunyi, dua pasang mata mereka bertemu pandangan tak berkedip. Tak ada sepatah katapun terucap. Hanya ada getaran yang tidak mengerti oleh mereka berdua. Rona merah menghiasi wajah yang putri yang jelita begitupun juga yang dialami oleh Puyang Lemang batu, perasaan mereka tidak jauh berbeda sama-sama memandang sesuatu yang belum mereka mengerti.

kejadian itu berlangsung cukup lama Namun mereka terasa kelu untuk mengungkapkan apa yang tersimpan di hati suasana sepi menambah Kesunyian di antara mereka, jantung mereka berdua berdetak tak beraturan mereka berdua salah tingkah.

Tak disangka Puyang Putri begitu cepat pergi menjauh, tinggallah Puyang Lemang Batu yang sendirian bertemankan sepi. setelah mereka bersama-sama saling tak terlihat barulah mereka dapat bernafas lega dan menyesali akhir pertemuan ini setelah pertemuan yang tak disangka diantara mereka terjadi menggoreskan kenangan yang tak mungkin terhapuskan begitu saja.

Malam itu mata Puyang Putri tak dapat terpejam. Hatinya begitu gelisah tak menentu. Ternyata wajah pemuda yang selalu hadir mengganggu disetiap tidurnya. menjelma menjadi kenyataan yang tak pernah dibayangkannya sampai malam ini wajah pemuda itu masih tergambar di pelupuk matanya membuat hatinya bertambah gundah

Begitu juga yang dirasakan Puyang Lemang Batu malam ini, wajah sang gadis muncul menemani kesendirinya. tiada cahaya rembulan sebagai penerang hatinya yang tengah rasa bayang-bayang sang garis tidak dapat ditepisnya dari ingatan Mengapa pertemuan itu begitu cepat sehingga dia tidak dapat mengetahui nama pencuri hatinya.

 Malam semakin larut menghampiri Puyang Lemang batu yang bersandar di atas dahan pohon cikhu merajut sebentuk damba diangannya. Begitu juga dengan puyang putri yang meniti selembar asa diatas khayalnya, malam bertambah larut menyelimuti mimpi mereka berdua.

*****

Pagi itu, Puyang Tuan memperhatikan anak gadisnya yang tampak kurang bergairah menyambut hari-hari seperti biasanya.

“ Anakku…. apakah hari ini engkau kurang enak badan…? ” tanya puyang tuan.

“ Ananda sehat-sehat saja bapak….! ” jawab sang anak sambil menunduk.

“ Sejak tadi, bapak perhatikan ada keresahan dihatimu, boleh bapak tahu, apa penyebabnya…?? ” lembut suara Puyang Tuan mencoba untuk mengerti.

Puyang putri menceritakan semua apa yang telah dialaminya, sampai ia bertemu seorang pemuda berambut panjang sembilan sedang meniup Seruling. wajah pemuda itu selalu hadir di setiap tidurnya inilah yang telah membuat keresahan di hatinya. Puyang putri takut kalau hatinya telah terpaut pada pemuda itu sedangkan dia tidak tahu apakah pemuda itu juga sama seperti perasaannya dia tak ingin harapannya ini kandas di tengah jalan, karena dia baru pertama kali perasaan nya seperti ini terhadap seorang pemuda.

Puyang Tuan tersenyum mendengar pengakuan polos anak gadisnya itu. Baru disadarinya, bahwa sang anak ternyata sudah berjanak dewasa. Wajar bila perasaan itu membuat hati anak gadisnya gelisah. Kegelisahan yang menjadi pertanda bawah sang anak sedang jatuh cinta pada seorang pemuda.

Pengertian dan kebijaksanaan Puyang Tuan membuat hati anak gadis yang menjadi berbunga. hati Puyang Tuan sangat bahagia karena telah mendapatkan keceriaan kembali pada diri anak gadisnya. Puyang Putri sangat senang, karena orang tuanya telah menyuruh dia untuk menjemput sang pemuda. Orang tua Puyang Putri merestui keinginan putrinya. Maka dengan membawa restu, ia berupaya menemui pemuda berambut panjang sembilan tersebut. Sambil berlari-lari kecil, puyang putri menuju tempat pemuda itu berada. hatinya begitu riang dan gembira membayangkan kebahagiaan yang akan diraihnya masa remaja yang penuh keceriaan dirasakannya selama ini akan lebih berarti bila dijalan bersama seorang tambatan hati untuk menggapai kebahagiaan.

Suara seruling itu begitu menyentuh hati Puyang Putri. Pada saat dia telah sampai ditempat Puyang Lemang Batu. Puyang Putri segera menegur dan memanggil sang pemuda, dengan harapan agar dapat turun dari atas dahan Pohon Cikhu. Sangat disayangkan Harapan Puyang Putri tak tercapai, pemuda itu tidak turun dan hanya memandang Puyang Putri dengan penuh arti.

Mendapat perlakukan seperti itu, menjadikan hati Puyang Putri kesal dan geram. Puyang Lemang Batu tetap duduk diatas dahan Pohon Cikhu, tanpa diduga sama sekali dengan cepat di tariklah rambut panjang Puyang Lemang Batu oleh  Puyang Putri. Mereka sama sama mempunyai kesaktian, tidak sedikitpun Puyang Lemang Batu bergeming, sewaktu rambutnya yang panjang ditarik Puyang Putri.

Begitu kuatnya tarik menarik yang terjadi, sehingga dahan Pohon Cikhu yang diduduki Puyang Lemang Batu, melentur sampai menyentuh tanah. Mereka saling pandang dengan sejuta arti. Disitulah mereka baru saling mengenal dan mengetahui nama masing-masing.

Puyang Putri mengutarakan maksud dan tujuannya datang menjumpai Puyang Lemang Batu. Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Puyang Putri, hati Puyang Lemang Batu sangatlah bahagia. Kiranya apa yang selama ini tersimpan dan terpendam dalam hati Puyang Lemang Batu, juga dirasakan oleh Puyang Putri.

Sukma bernyanyi  senanda di relung hati mereka berdua, nyanyian ilalang mengiringi langkah kaki dua insan meniti jalan terbentang d kehidupan ini. bunga-bunga yang merekah tersenyum malu menyaksikan kebahagiaan dua insan yang menyatu dalam Mahligai Asmara. jalan yang mereka tempuh tersebut itu dekat karena dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka sudah sampai di tempat tujuan.

*****

Puyang Tuan rupanya telah menanti kedatangan mereka berdua. Sambutan hangat dirasakan oleh Puyang Lemang Batu. ketika memasuki perkarangan tempat tinggal Puyang Putri, rasa gugup yang membebani dirinya, hilang seketika. Puyang Tuan duduk berhadapan dengan Puyang Lemang Batu sedangkan Puyang Putri bersama yang sanggahan pergi ke dapur.

            Di hadapan Puyang Tuan segala yang tersimpan dan Terpendam di hati semua diungkapkan dan disampaikan oleh Puyang Lemang Batu. Puyang Tuan tidak mengira bahwa Niat Puyang Lembang Batu, untuk mengenal keluarganya dan mempersunting Puyang Putri sudah lama dipendamnya kiranya cinta mereka tidaklah bertepuk sebelah tangan, karena keinginan anak gadisnya Sama persis dengan keinginan Puyang Lemang Batu.

            Alangkah senang nya hati Puyang Putri, ketika pinangan Puyang Lemang Batu diterima oleh orang tuanya. Karena niat mereka untuk bersatu mandapat restu dari orang tua.

“ Puyang Lemang Batu, hanya satu pintaku sebagai orang tua. Apakah kira-kira kau sanggup memenuhinya? ” Puyang tuan menyampaikan satu permintaan

“ Apa yang bapak inginkan dari hamba yang tak berdata ini? Hamba mohon untuk disampaikan, mungkin hamba sanggup memenuhinya.” Terdengar tegas suara Puyang Lemang Batu

“ Kuserahkan dan ku titipkan belahan jiwaku kepadamu, tolong jaga dia sampai akhir hayatmu” Puyang Tuan terlihat menahan perasaan haru

Puyang Lemang Batu berikrar dan sanggup, menerima amanat yang telah diberikan oleh Puyang Tuan. Selama jantungnya berdenyut, dia tidak akan menyia nyiakan Puayng Putri. Sebagai seorang laki-laki pantang baginya untuk berperilaku kasar terhadap wanita.

Beberapa hari kemudian, pernikahan Puyang Lemang Batu dan Puyang Putri berlangsung. pernikahan yang dihadiri oleh kerabat dekat tetap membuat hati mereka bahagia terlebih puyang tuan yang melihat puyang Putri mendapat pendamping hidupnya. dari sana pula ia nantinya akan mendapatkan seorang cucu.

Biduk rumah tangga Puyang Lemang Batu dan Puyang Putri selalu dipenuhi kecerian dan kebahagian. Tak jarang, keharmonisan mereka berdua membuat orang yang ada di sana kita merasa iri. selama mereka hidup bersama tidak pernah terdengar pertengkaran Yang ada hanyalah canda dan tawa.

Pernah suatu hari pernah terjadi sedikit perselisihan diantara mereka Puyang Lemang Batu berambut panjang sembilan duduk di atas dahan puncak cikhu. ketika dipanggil oleh puyang Putri tidak mau turun perasaan geram dan tercampur kesal karena dipanggil berulang kali Tapi tetap saja tidak mau turun. lalu, rambut Puyang Lemang Batu membantu ditarik oleh Puyang Putri, dahan pohon Cikhu yang diduduki Puyang Lemang Batu melentur hingga sampai menyentuh tanah. barulah Puyang Lemang Batu mau turun. keanehan terjadi di sini dan dahan yang melentur sampai menyentuh tanah itu tidak mau kembali seperti semua. Itulah sebabnya Mengapa pohon cikhu di sekitar daerah Bukit salingan tinggi tidak ada yang tumbuh lurus

Tapi…..sungguh disayangkan, usia perkawinan mereka tidak berlangsung begitu lama. Puyang Putri menerima cobaan yang sangat berat karena kehilangan suami tercinta pada saat hamil tua. Suami tercinta, Puyang Lemang Batu memenuhi panggilan Sang Pencipta. Lenyap sudah separuh napas Puyang Putri dirasakannya, terbawa pergi bersama belahan jiwa.

Dengan ketabahan hati yang dimilinya, Puyang Putri mencoba untuk bertahan demi sibuah hati yang kini ada di rahimnya. telah tertanam dalam tekadnya, ia akan menjaganya benih cinta mereka, meskipun yang harus dipertaruhkan. tidak lama lagi buah hati mereka akan terlahir ke dunia inilah yang membuat semangat hidupnya tetap menyala dan tidak terbuai dalam kesedihan.

Sebelum kepergian Puyang Lemang Batu memenuhi panggilan sang pencipta. Sempat ia berpesan dan menitipkan Sebilah Pedang serta meninggalkan wasiat kepada Puyang Putri.

“Apabila anak yang ada di dalam kandungannya lahir kedunia, jaga dan rawatlah dengan baik serta didiklah dia menjadi orang yang berarti bagi semua orang. Kelak suatu hari nanti, bila ia telah tumbuh remaja, berikanlah Sebilah Pedang ini kepadanya”.

Suatu hari, tangisan bayi pun terdengar merdu. Hati Puyang Putri begitu bahagia meski tangisnya tak di sambut oleh ayahnya. Sang bayi merupakan anak cucu Puyang Tuan, sehingga ia termasuk satu Jungku (kelompok) dengan masyarakat Desa Ujan Mas, yang mana Jungku itu disebut Lang Pinang.

Pesan Yang Disampaikan : tentang kesetiaan, kesabaran. Sebuah pengembaraan tentang kehidupan yang harmonis

Sekian

error: Hehe...