Jauh sebelum adanya Dusun Ujan Mas, diseberang daerah ini terhampar dataran tinggi yang disebut Bukit Salingan Tinggi.  Tinggallah seorang laki-laki bersama anak-anaknya, mereka sangat bahagia berada ditempat yang tenang dan penuh kedamaian. Laki-laki itu bernama Puyang Tuan. Sudah cukup lama dia menetap dan tinggal di Bukit Salingan Tinggi ini. Tiga orang anak dikaruniakan Yang Maha Kuasa untuknya, mewarnai kebahagiaan hidupnya yang terasa begitu indah.  Anak pertama bernama Puyang Putri dan anak kedua bernama Puyang Sanggahan serta yang bungsu bernama Puyang Riye Maye.

Tapi apa yang hendak dikata, apabila suratan takdir berkehendak lain. Anaknya Puyang Reye Maye wafat dalam usia muda dan belum beristreri, tapi dia tidak mau terbuai dalam kesedihan yang berlarut-larut. Kenyataan ini diterimanya dengan lapang dada, karena dia percaya Sang Pencipta memberikan cobaan untuk menguji keimanannya.  Angin yang berhembus membelai pepohonan dan dedaunan, menyentuh tubuh Puyang Tuan yang sedang duduk sendirian. Kicau burung yang merdu mengalunkan tembang kehidupan, seakan-akan ingin berbagi kecerian dengan Puyang Tuan terlihat tenggelam dalam lamunannya. Dia tersentak dari lamunan, manakala selembar daun yang tertiup angin menyentuh dirinya.

Puyang Tuan melihat kedua anaknya yang sedang bermain dengan ceria, tak terasa anak-anaknya telah beranjak remaja. Dia melihat Puyang Puteri yang begitu riang gembira, bermain mengejar kupu-kupu yang berterbangan untuk ditangkap. Di sini tampak kejahilan Puyang Sanggahan sebagai seorang adik, dengan manja mengusir kupu-kupu yang hendak ditangkap kakaknya. Hal itu, tentu saja membuat sang kakak merasa kesal, dan berbalik mengejar sang adik yang berlari sambil tertawa. Melihat tingkah laku anak-anaknya Puyang Tuan tidak dapat menahan tawa. Meskipun mereka sudah menginjak remaja tetapi sifat kekanak-kanakannya belum bisa dipisahkan dari mereka. Tak terasa ada yang tergenang membasahi pelupuk matanya, kemudian dia menghapus air mata bahagia itu.

Nun jauh di sana, pada saat perperangan terjadi di Bengkulu. Banyak orang yang pergi mengungsi untuk mencari perlindungan ke daerah lain untuk menyelamatkan diri. Mencari daerah yang dianggap aman bagi kelangsungan hidup mereka, dengan cara berkelompok ataupun perorangan.

Pada saat terjadi kemelut di Bengkulu, ada seorang yang bernama Puyang Lemang Batu pergi meninggalkan daerah tersebut. Puyang Lemang Batu tidak mempunyai arah tujuan yang pasti, akan kemana dia pergi dan menetap setelah meninggalkan Bengkulu.

Dalam pengembaraannya, ia tidak menempuh perjalanan lewat darat, melainkan   menempuh perjalanan dengan caranya sendiri. Puyang Lemang Batu dapat terbang dengan cara naik Pelepah Niukh Gading ( Pelepah Kelapa Gading ). Tak dinyana, jarak tempuh yang jauh dapat dicapainya dalam waktu yang singkat. Semua ini dapat saja terjadi, karena kesaktian yang dimilikinya. Banyak sudah daerah yang dilewatinya, namun belum juga tergerak hatinya untuk berlabuh.

Setelah sekian lama Puyang Lemang Batu terbang tak tentu arah tujuan, kemudian dia memutuskan untuk mendarat disuatu tempat yang asing bagi dirinya.  Di sebuah dataran tinggi dia turun dari Pelepah Niukh Gading , untuk menapakkan kakinya ketanah. Suasana alam yang tenang dan menjanjikan kedamaian dapat ditemukannya disini, membuat hatinya terpikat untuk menetap dan tinggal  didataran tinggi ini.

Ternyata Puyang Lemang Batu  berada di daerah Bukit Salingan Tinggi,  dia mengira tempat ini tentu belum terjamah manusia. Mana mungkin ada orang yang mau tinggal dan menetap ditempat sesunyi ini, dugaan dan pemikiran itulah yang sempat melintas dibenaknya. Puyang Lemang Batu merasakan rasa lelah mulai terasa ditubuhnya, kemudian beralaskan rerumputan dia berbaring untuk beristirahat dibawah pohon yang rindang.

Dari hari ke hari, perjalanan hidup dilewati oleh Puyang Lemang Batu. Tanpa terasa, ia sudah berkeliling untuk mencari-cari permukiman di sekitar tempat itu. Namun sampai sekian lama, harapannya itu belum juga terkabul. Ia merasa kesepian dengan kesendiriannya di hutan rimba dan rimbunnya semak belukar.

Dalam kesendiriannya itu, Puyang Lemang Batu meniup seruling sambil duduk di atas sebuah dahan Pohon Cikhu ( Pohon Seru ). Ia berusaha untuk mengusir kesunyian yang senantiasa menemani dirinya. Suara serulingnya begitu merdu bergema di pepohonan dan dedaunan. Penghuni hutan rimba bagaikan terlena mendengar alunan suara serulingnya, sehingga kicau burungpun seirama menembangkan kidung yang indah.

Di atas dahan Pohon Cikhu, Puyang Lemang Batu tenggelam dan hayut dalam buaian irama seruling yang dimainkannya. Rambutnya yang panjang terurai hampir menyentuh tanah dipermainkan hembusan angin yang sepoi-sepoi. Bila kesunyian dihatinya telah sirna dan pergi menjauh, suara seruling itu tak terdengar lagi berkumandang.

Sekian lama Puyang Lemang Batu berada daerah Bukit Salingan Tinggi. Seperti hari-hari biasanya, dia selalu berjalan mengelilingi sekitar tempatnya berada.  Kemungkinan  untuk dapat menjumpai permukiman di daerah itu, tidaklah memupuskan harapannya. Sampai pada suatu hari, di saat Puyang Lemang Batu sudah cukup jauh meninggalkan tempatnya, darii kejauhan terlihat sosok bayangan manusia yang sedang bermain sendirian. Perasaan senang pun menggoda hatinya untuk bergerak  melangkah lebih dekat.

Semakin dekat, jarak Puyang Lemang Batu dengan sosok tubuh yang sedari tadi diperhatikannya, hatinya berdetak lebih kencang dari biasanya. Dia tidak berani untuk mendekat dan menyapanya. Kemudian dia bersembunyi di balik sebatang pohon. Pandangannya tidak lepas memperhatikan sosok tubuh itu, perasaan tak menentu kini berkecamuk dihatinya. Puyang Lemang Batu dapat melihat dengan lebih jelas dari persembunyiannya, tanpa diketahui oleh sosok tubuh yang  terus bermain dan tidak curiga bila ada orang yang memperhatikannya.

Ternyata, pemilik sosok tubuh itu adalah seorang gadis yang beranjak remaja, bagai bunga yang tengah merekah yang tumbuh dan hidup di hutan belantara. Kulitnya yang putih dan rambut panjangnya terurai dipermainkan angin. Senandung merdu mengalun indah dari bibirnya mungilnya. Tawa renyahnya kadang terdengar saat dia berlari-lari kecil mengejar kupu-kupu yang terbang, keceriaan sang gadis membuat kesan tersendiri dihati Puyang Lemang Batu.Tanpa disengaja, sang gadis melihat ke arah tempat Puyang Lemang Batu bersembunyi, pandangan mata mereka sempat bertemu dan membuat Puyang Lemang Batu tersentak dari kekagumannya. Begitu mengetahui ada orang lain yang ada disitu selain dirinya, sang gadis sangat terkejut dan tidak menyangka sama sekali kalau ada sepasang mata mengawasinya.

Belum sempat Puyang Lemang Batu menyapa, dalam sekejap sang gadis telah hilang entah kemana dari hadapanya. Perasaan menyesal tergores  dihatinya, mengapa dari tadi dia tidak menyapa sang gadis yang kini telah pergi. Puyang Lemang Batu berharap ini bukanlah sekedar halusinasinya, mungkin suatu saat kelak mereka dapat  bertemu lagi dan itulah yang terlintas diangannya.

Malam itu hujan gerimis membasahi tempat Puyang Lemang Batu bernaung. Awan terasa begitu dingin merejam tubuhnya. Matanya sulit untuk terpejamkan. Sejak  pertemuannya beberapa hari yang lalu dengan sang gadis itu, kini hatinya begitu gundah dan risau tak menentu. Ada sebentuk damba melayang jauh dalam khayalnya. Mengapa semua ini menjelma disetiap kesendiriannya? Apakah hati ini telah terpaut pada pandangan pertama?

Setiap ada kerinduan yang datang menghampiri Puyang Lemang Batu, membuat hatinya gelisah ingin bertemu. Namun apa daya dia tak tahu siapa gerangan gadis itu dan dimana tempatnya.telah dijelajahinya hampir seluruh daerah disekitar tempat tinggalnya, tapi apa yang dicari sampai detik ini belum dijumpainya. Sebagai pengobat rindu dan menepis kesunyian di hati, perasaan yang terpendam diungkapkan melalui suara seruling yang ditiupnya. Suara merdu seruling yang dimainkannya berkumandang dan bergema terbawa angin, melintasi hutan rimba dan sampai keujung bukit  yang berbatas langit.

Di bawah sebatang pohon rindang yang ada di depan tempat tinggalnya, duduk Puyang Putri sambil menyandarkan tubuhnya. Tatapan matanya jauh menerawang entah kemana, perasaan hatinya tidak menentu akhir-akhir ini. Dia sering berdiam diri. Jiwanya resah serta  gelisah, tanpa tahu apa yang menjadi penyebabnya.  Dalam lamunan, terlintas sebentuk wajah yang selalu hadir  menjelma. Wajah yang belum begitu dikenalnya mengapa selalu datang mengganggu. Inilah yang selalu dirasakannya disetiap waktu, sehingga ada getar kerinduan membuat hati ingin bertemu. Walaupun hanya sekejap itu terjadi, cukup sudah sebagai pelepas  rindu yang ada.

Sejenak lamunan Puyang Putri terusik, ketika sayup-sayup terdengar  suara seruling mengalun merdu yang terbawa angin. Hati Puyang Putri sangat tersentuh akan kesyahduan irama dari seruling itu. Hal itu memunculkan keinginan bagi dirinya untuk mengetahui siapakah gerangan yang memainkan seruling itu?

Sepanjang pengetahuannya selama ini, di Bukit Salingan Tinggi hanya tinggal  dia sekeluarga. Tapi ternyata, ada suara seruling yang dimainkan oleh seseorang. Mungkinkah sudah ada keluarga lain yang menetap dan tinggal di sini? Bisiknya dalam hati. Rasa penasaran yang ditimbulkan suara seruling tadi, membuat Puyang Putri ingin segera mengetahui dimana keberadaan orang yang meniup seruling itu. Setelah mohon izin kepada Puyang Tuan sebagai orang tuanya, berangkatlah Puyang Putri seorang diri mencari dari mana datangnya asal suara seruling itu.

Suara seruling itu terdengar mengalun kembali dan berkumandang sangat merdu. Alunan suara itu mempermudah Puyang Putri untuk segera menemukan asal suara seruling tersebut.  Puyang Putri sudah sangat mengenal daerah dan jalan yang ada ditempat ini. Jadi dia tidak ragu-ragu lagi kemana arah yang harus ditempuhnya

Dalam waktu yang relatif singkat, Puyang Putri sudah sampai di tempat asal suara seruling itu. Sesampainya disana secara perlahan-lahan dia melangkah. Ini dilakukannya supaya orang yang meniup seruling itu tidak mengetahui kedatangannya, apa lagi suara merdu dari seruling itu tetap mengalun dengan indahnya. Puyang Putri tidak ingin menggangu sipeniup seruling itu, dia hanya ingin mengetahui siapa gerangan yang memainkannya.

Puyang Putri mengendap-endap dibalik rimbunnya semak belukar, lalu dia bersembunyi dicbalik sebatang pohon. Tepat berada dimana suara seruling itu dengan jelas terdengar, dia berpikir dalam hati mudah-mudahan orang itu tidak mengetahui kedatangannya yang secara sembunyi-sembunyi ini.

Dilihatnya ada seorang pemuda tampan yang gagah dengan Rambut Panjang Sembilan, sedang duduk sambil meniup seruling di atas sebuah dahan Pohon Cikhu. Rambutnya yang panjang lepas terurai hampir menyentuh tanah, inilah yang membuat Puyang Putri merasa heran dan tidak mengerti. Pemuda ini tidak lain adalah Puyang Lemang Batu yang melepaskan kerinduan pada seseorang, melalui seruling yang ditiupnya sebagai penawar rindu hatinya.

Tanpa disadari oleh Puyang Putri, ternyata kehadirannya telah diketahui Puyang Lemang Batu sejak tadi. Puyang Lemang Batu sengaja berpura-pura tidak mengetahui kedatangnya, agar orang yang bersembunyi dan mengintip itu semakin mendekatinya. Rupanya siasatnya ini membawa hasil seperti yang dinginkan Puyang Lemang Batu.

Secara tiba-tiba, Puyang Lemang Batu menoleh ke arah Puyang Putri yang tak sempat lagi untuk bersembunyi, dua pasang mata mereka bertemu pandang tak berkedip. Lama pandangan mata mereka bertemu. Tak ada sepatah katapun yang terucap kala itu. Hanya ada getaran yang tidak dimengerti oleh mereka berdua. Rona merah menghiasi wajah Puyang Putri yang jelita. Begitupun juga yang dialami oleh Puyang Lemang Batu, perasaan mereka tidak jauh berbeda sama-sama memendam  sesuatu yang belum mereka mengerti.

Kejadian itu berlangsung cukup lama, namun lidah mereka terasa kelu untuk mengungkapkan apa yang tersimpan di hati. Suasana sepi menambah kesunyian di antara mereka, jantung mereka berdua berdetak tak beraturan mereka berdua salah tingkah.

Tak disangka Puyang Putri berlari begitu cepat pergi menjauh. Tinggalah Puyang Lemang Batu yang sendirian bertemankan sepi. Setelah mereka sama-sama saling tak terlihat, barulah mereka dapat bernafas lega dan menyesali akhir pertemuan ini.  Setelah pertemuan yang tak disangka diantara mereka terjadi, menggoreskan kenangan yang tak mungkin terhapuskan begitu saja.

Malam itu, mata Puyang Putri tak dapat terpejam. Hatinya begitu gelisah tak menentu.Ternyata wajah pemuda yang selalu hadir menggangu disetiap tidurnya, menjelma menjadi kenyataan yang tak pernah dibayangkannya.  Sampai malam ini, wajah pemuda itu masih tergambar di pelupuk matanya, membuat hatinya bertambah gundah.

Begitu juga yang dirasakan oleh Puyang Lemang Batu malam ini, wajah sang gadis muncul menemani kesendiriannya. Tiada cahaya rembulan sebagai penerang hatinya yang tengah resah, bayang-bayang sang gadis tidak dapat ditepisnya dari ingatan. Mengapa pertemuan itu begitu cepat berlalu, sehingga dia tidak dapat mengetahui nama pencuri hatinya.

Malam semakin larut menghampiri Puyang Lemang Batu yang bersandar di atas dahan Pohon Cikhu, merajut sebentuk damba diangannya. Begitu juga dengan Puyang Putri yang meniti selembar asa diatas khayalnya, malam bertambah larut menyelimuti mimpi mereka berdua.

Pagi itu, Puyang Tuan memperhatikan anak gadisnya yang tampak kurang bergairah menyambut hari-hari seperti biasanya, dengan penuh kasih sayang dia menghampiri anak gadisnya.

“ Anakku…. apakah hari ini engkau kurang sehat….?,” tanya Puyang Tuan.

“ Ananda sehat-sehat saja, Bapak….!” , jawab sang anak sambil menunduk.

“Sejak tadi, bapak perhatikan ada keresahan dihatimu, boleh bapak tahu, apa penyebabnya….?“ . Lembut suara Puyang Tuan mencoba untuk mengerti,  persoalan apa yang telah membuat hati anaknya dirundung kegelisahan.

Puyang Putri menceritakan semua apa yang telah dialaminya, sampai dia bertemu seorang pemuda berambut Panjang Sembilan sedang meniup seruling. Wajah pemuda itu selalu  hadir disetiap tidurnya. Inilah yang telah membuat keresahan dihatinya. Puyang Putri takut kalau hatinya telah terpaut pada pemuda itu,  sedangkan dia tidak tahu apakah pemuda itu juga sama seperti perasaannya. Dia tak ingin harapannya ini kandas di tengah jalan, karena dia baru pertama kali  perasaaannya seperti ini terhadap seorang pemuda.

Puyang Tuan tersenyum mendengar pengakuan polos anak gadisnya ini. Baru disadarinya, bahwa sang anak ternyata sudah menginjak dewasa.  Wajar bila perasaan itu membuat hati anak gadisnya gelisah. Kegelisahan yang menjadi pertanda bahwa sang anak sedang jatuh cinta pada seorang pemuda.

Pengertian dan kebijaksanaan Puyang Tuan membuat hati anak gadisnya menjadi berbunga. Hati Puyang Tuan sangat bahagia karena telah mendapatkan keceriaan kembali pada diri anak gadisnya. Puyang Putri sangat senang, karena orang tuanya telah menyuruh dia untuk menjemput sang pemuda.

Orang tua Puyang Putri merestui keinginan putrinya. Maka dengan membawa restu, ia berupaya untuk menemui pemuda Berambut Panjang Sembilan tersebut. Sambil berlari-lari kecil, Puyang Putri menuju ke tempat pemuda itu berada. Hatinya begitu riang dan gembira membayangkan kebahagian yang akan diraihnya. Masa remaja yang penuh kecerian dirasakannya selama ini, akan lebih berarti bila dijalani bersama seorang tambatan hati untuk menggapai kebahagian.

Suara seruling itu begitu menyentuh hati Puyang Putri. Pada saat dia telah sampai di tempat Puyang Lemang Batu. Puyang Putri segera menegur dan memanggil sang pemuda,  dengan harapan agar  dapat turun dari atas dahan Pohon Cikhu. Sangat disayangkan harapan Puyang Putri tak tercapai, pemuda itu tidak turun dan hanya memandang Puyang Putri dengan penuh arti.

Mendapat perlakuan seperti ini, menjadikan hati Puyang Putri merasa  kesal dan geram. Puyang Lemang Batu  tetap duduk diatas dahan Pohon Cikhu, tanpa diduga sama sekali dengan cepat ditariklah rambut panjang Puyang Lemang Batu oleh Puyang Putri. Mereka berdua sama-sama mempunyai kesaktian, tidak sedikitpun Puyang Lemang Batu bergeming, sewaktu rambutnya yang panjang ditarik Puyang Putri.

Begitu kuatnya tarik menarik yang terjadi, sehingga dahan Pohon Cikhu yang diduduki Puyang Lemang Batu, melentur sampai menyentuh tanah. Barulah Puyang Lemang Batu mau turun dan tersenyum pada Puyang Putri, mereka saling pandang dengan sejuta arti. Disitulah mereka baru saling mengenal dan mengetahui nama masing-masing, mereka kembali saling pandang dan tersenyum  bahagia.

Puyang Putri mengutarakan maksud dan tujuannya datang menjumpai Puyang Lemang Batu. Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Puyang Putri, hati Puyang Lemang Batu sangatlah bahagia. Kiranya apa yang selama ini tersimpan dan terpendam dalam hati Puyang Lemang Batu, juga dirasakan oleh Puyang Putri.

Sukma bernyanyi senada di relung hati mereka berdua, nyanyian ilalang mengiringi langkah kaki dua insan meniti jalan yang terbentang dikehidupan ini. Bunga-bunga yang merekah tersenyum malu, menyaksikan kebahagian dua insan yang kini menyatu dalam mahligai asmara. Jalan yang mereka tempuh terasa begitu dekat, karena dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka sudah sampai ditempat  tujuan.

Puyang Tuan rupanya telah menanti kedatangan mereka berdua. Sambutan  hangat dirasakan oleh Puyang Lemang Batu.  Ketika memasuki perkarangan tempat tinggal Puyang Putri, rasa gugup yang membebani dirinya, hilang seketika. Puyang Tuan duduk  berhadapan dengan Puyang Lemang Batu, sedangkan Puyang Putri bersama Puyang Sanggahan pergi ke dapur.

Di hadapan Puyang Tuan segala yang tersimpan dan terpendam dihati, semuanya diungkapkan dan disampaikan oleh Puyang Lemang Batu. Puyang Tuan tidak mengira bahwa niat Puyang Lemang Batu, untuk mengenal keluarganya dan mempersunting Puyang Putri sudah lama dipendamnya. Kiranya cinta mereka tidaklah bertepuk sebelah tangan, karena keinginan anak gadisnya sama persis dengan keinginan Puyang Lemang Batu.

Alangkah senangnya hati Puyang Putri, ketika pinangan Puyang Lemang Batu diterima oleh orang tuanya. Sempat terbayang kebahagiaan yang akan mereka reguk bersama, karena niat mereka untuk bersatu mendapat restu dari orang tua.

“Puyang Lemang Batu, hanya satu pintaku sebagai orang tua. Apakah kira-kira Kau sanggup memenuhinya?“. Puyang Tuan menyampaikanya satu permintaan kepada Puyang Lemang Batu  yang menunduk  dengan hormat, sambil mendengarkan semua yang katakan oleh Puyang tuan.

“Apa yang Bapak inginkan dari hamba yang tak berdaya ini?. Hamba mohon untuk disampaikan, mungkin hamba sanggup memenuhinya. “,  terdengar tegas suara Puyang Lemang Batu.

“Ku serahkan dan kutitipkan belahan jiwaku kepadamu, tolong jaga dia sampai akhir hayatmu“. Puyang Tuan terlihat menahan perasaan haru,  begitu selesai menyampaikan permintaannya.

Puyang Lemang Batu berikrar dan sanggup, menerima amanat yang telah diberikan oleh Puyang Tuan kepada dirinya. Selama jantungnya berdenyut,  dia tidak akan menyia-nyiakan Puyang Putri. Sebagai seorang laki-laki pantang baginya untuk berprilaku kasar terhadap wanita.

Beberapa hari kemudian, pernikahan Puyang Lemang Batu dan Puyang Putri pun berlangsung. Pernikahan yang hanya dihadiri oleh kerabat dekat, tetap membuat hati mereka bahagia. Terlebih Puyang Tuan yang melihat Puyang Putri mendapatkan pendamping hidupnya. Dari sana pula ia nantinya akan mendapatkan sorang cucu.

Biduk rumah tangga Puyang Lemang Batu dan Puyang Putri selalu diwarnai dengan kecerian dan kebahagian. Tak jarang, keharmonisan mereka berdua membuat orang yang ada di sekitarnya merasa iri. Selama mereka hidup bersama tidak pernah terdengar pertengkaran, yang ada hanyalah canda dan tawa.

Pernah suatu hari, pernah terjadi sedikit perselisihan di antara mereka. Puyang Lemang Batu Berambut Panjang Sembilan duduk di atas dahan Pohon Cikhu. Ketika dipanggil oleh Puyang Putri tidak mau turun. Perasaan geram dan bercampur kesal, karena dipanggil berulang kali tapi tetap saja tidak mau turun. Lalu, rambut Puyang Lemang Batu ditarik oleh Puyang Putri,  dahan Pohon Cikhu yang diduduki Puyang Lemang Batu melentur hingga sampai menyentuh tanah. Barulah Puyang Lemang Batu mau turun. Keanehan pun terjadi di sini dahan yang melentur sampai menyentuh tanah itu tidak mau kembali seperti semula. Itulah sebabnya mengapa Pohon Cikhu di sekitar daerah Bukit Salingan Tinggi tidak ada yang tumbuh lurus.

Tapi…. sungguh disayangkan, usia perkawinan mereka tidaklah berlangsung lama. Puyang Putri menerima cobaan yang sangat berat karena kehilangan suami tercinta pada saat hamil tua. Suami tercinta, Puyang Lemang Batu memenuhi paggilan Sang Pencipta. Lenyap sudah separuh napas Puyang Putri dirasakannya,  terbawa pergi bersama belahan jiwanya.

Dengan ketabahan yang dimilikinya, Puyang Putri mencoba untuk bertahan demi si buah hati yang kini ada dalam rahimnya. Telah tertanam dalam tekadnya, ia akan menjaga benih cinta mereka, meskipun nyawa harus dipertaruhkan. Tidak lama lagi, buah hati mereka akan terlahir kedunia. Inilah yang membuat semangat hidupnya tetap menyala dan tidak terbuai dalam kesedihan.

Sebelum kepergian Puyang Lemang Batu memenuhi panggilan menghadap Sang Pencipta, sempat ia berpesan dan menitipkan Sebilah Pedang serta meninggalkan wasiat kepada Puyang Putri. “Apabila anak yang ada dalam kandungannya kelak telah lahir ke dunia, jaga dan rawatlah dengan baik serta didiklah dia menjadi orang yang berarti bagi semua orang.  Kelak suatu hari nanti, bila ia telah tumbuh remaja, berikanlah Sebilah Pedang ini kepadanya”.

Suatu hari, tangis bayi pun terdengar merdu. Hati Puyang Putri begitu bahagia meski tangisnya tak disambut oleh ayahnya.  Sang bayi merupakan anak cucu keturunan Puyang Tuan, sehingga ia termasuk satu Jungku ( kelompok ) dengan masyarakat desa Ujan Mas, yang mana Jungku itu disebut Lang Pinang.

Demikianlah kisah tentang kesetiaan, kesabaran. Sebuah penggambaran tentang kehidupan yang harmonis.

 

S EK I A N