(Asal Muasal Nama Dusun Durian)

Dikisahkan pada zaman dahulu kala, ada satu perkampungan yang sedang berkembang. Letaknya jauh terpencil di pinggiran  hutan belantara, hanya beberapa kepala keluarga yang menetap di sana. Lambat laun, perkampungan yang semula tak begitu ramai itu, tampak lebih maju. Karena kesuburan tanahnya, perkampungan itu diminati banyak orang untuk dijadikan kebun dan ladang. Perkampungan ini tidak jauh letaknya dari aliran sungai yang diberi nama Sungai Ogan. Air yang melimpah dijadikan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Mulai dari kebutuhan mencuci, mandi, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Jauh sebelum tempat ini dijadikan perkampungan, sudah tumbuh sebatang pohon durian yang sangat besar dan tingggi.Konon, karena begitu tingginya pohon ini, pucuknya sampai tetutup awan. Dapat dibayangkan pula  betapa tingginya pohon durian ini. Apabila buahnya jatuh ke tanah, suaranya pasti terdengar ke seluruh penjuru kampung.

Tidak dapat dibayangkan besarnya buah durian ini. Menurut cerita yang turun-temurun, karena besarnya buah durian itu maka satu buah dapat dimakan oleh semua penduduk kampung. Ada keanehan lagi pada buah durian ini, yaitu hanya mempunyai satu rongga. Dan rongga itu konon berisikan penuh dengan daging buah yang lunak dan manis, bijinya kecil, tak sampai sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Pohon durian yang istimewa itu membuat penduduk di perkampungan ini sangat bangga dan senang. Mereka menjaga dan merawat pohon durian dengan baik, agar pohon durian yang telah banyak memberi mafaatnya bagi mereka dapat bertahan selamanya

Lama kelamaan, kampung ini semakin berkembang dan maju. Jumlah penduduknya semakin bertambah sehingga membuat perkampungan melebar dan meluas. Dusun yang awalnya hanya satu, akhirnya menjadi empat dusun dengan  masing-masing Perdatin ( Kerio ).

Keempat dusun itu mempunyai nama masing-masing yaitu, Dusun Bantaiyan, Dusun Bayuran dan Dusun Kuang serta Dusun Karang. Para Kerio dan sesepuh diperkampungan melihat geliat dari hari kehari, banyak orang yang sekedar singgah ataupun lalu lalang di perkapungan ini. Lalu mereka mencari jalan, agar keamanan dan keharmonisan yang sudah terjalin tetap terjaga dengan baik.

Pada suatu malam, para Kerio dan sesepuh mengajak penduduk empat dusun itu untuk berkumpul. Mereka akan mengadakan pertemuan untuk bermusyawarah mengatasi permasalahan yang mungkin akan terjadi seiring maju dan berkembangnya kampung mereka. Dilihat dari jarak rumah-rumah dari empat dusun ini berdekatan, hampir tidak terlihat adanya batas satu sama lain. Seolah-olah keempat dusun ini telah menjadi satu, alangkah baiknya bila keempat dusun disatukan.

“Saudara-saudaraku…! Malam ini kita kumpul bersama, untuk memberikan saran dan pendapat tentang dusun kita“. Salah seorang sesepuh mengawali pembicaraannya, atas persetujuan para Kerio dan sesepuh lainnya.

“Seperti kita ketahui bersama bahwa yang hadir disini mewakili empat dusun. Sekarang, kampung kita semakin maju dan berkembang. Jumlah penduduknya juga semakin bertambah. Alangkah baiknya kita bermusyawarah untuk menyamakan pendapat, untuk menyatukan kita semua dengan satu nama dan satu tujuan“. Sesepuh itu kemudian memberikan kesempatan kepada yang hadir, untuk mengajukan saran dan pendapat.

Begitu kesempatan diberikan mulailah suara mereka sedikit riuh, beberapa orang terlihat mengajukan nama buat dusun mereka dengan antusias, agar nama yang diusulkan dapat diterima. Tentu saja silang pendapat membuat keadaan dipertemuan ini bertambah gaduh.

Kerio dan para Sesepuh berusaha meredahkan suasana yang berisik, ini diakukan untuk mencari titik temu diantara mereka. Namun apa hendak dikata, disinilah terlihat dan muncul sifat manusia yang penuh nafsu serta keegoisannya,

Masing-masing mengemukakan argumen dan pendapat atas usul yang diberikan, disini tampak ada orang-orang yang tertentu seakan memaksakan kehendak demi mendapat sanjungan.

Malam perlahan merayap semakin larut, titik temu dan kesepakatan belum mereka temukan. Untuk mencegah supaya tidak semakin berlarut-larut, akhirnya Tetua dan Sesepuh memilih cara bijaksana. Semua nama yang diusulkan akan dipilih salah satu, dengan cara pemilih yang terbanyak atas sebuah nama itulah yang akan dijadikan nama kampung mereka.

Pada saat mereka akan menghitung suara terbanyak atas nama yang diusulkan, tiba-tiba terdengar suara keras seperti ada benda yang yang jatuh dari langit. Semua sangat terkejut dan tidak tampak adanya kepanikan. Mereka yang ada dipertemuan itu baru ingat, sekarang sedang musim durian dan itu pasti buah durian yang jatuh. Raut wajah mereka terlihat gembira dan girang, karena seperti biasa besok seluruh penduduk dikampung ini akan menikmati buah durian yang lezat.

“Wahai Saudara-saudara, harap tenang…!, acara kita belum selesai…! “. Suara seorang Sesepuh terdengar untuk menenangkan keadaan dipertemuan ini.

“Durian… ! durian…. ! “. Terdengar suara secara spontan dari mereka yang ada dipertemuan itu, kemudian entah mengapa mereka lalu saling pandang satu sama lain dan tersenyum.

“ Yaaa… durian…!, Kalian dengar suara itu…?. Mungkin ini sebuah petunjuk dari Yang Maha Kuasa, telah memberikan jawaban kepada kita semua. Ini adalah karunia dan rahmat untuk kita, karena Sang Pencipta tidak menginginkan adanya perselisihan diantara kita“ . Sesepuh kampung berkata sambil memandang kearah semua yang hadir malam itu, lalu dia melanjutkan kata-katanya.

“Saudara-saudara…! Bagaimana seandainya keempat dusun kita yang bersatu diberi nama  Dusun Durian, apakah kalian semua yang hadir disini setuju atau ada usul dan saran yang lain…?.

“Setujuuuuu…!, Setujuuuuu….!, Dusun Durian… dusun kita bersama ….! ,horeeee… horeee…. !“. Secara serentak semua yang ada dipertemuan itu sepakat dan menerima keputusan bersama. Mereka bersorak kegirangan sambil bertepuk tangan. Empat Dusun bersatu dengan nama Dusun Durian, yang ada di tepian Sungai Ogan.

Larut malam pertemuan itu ditutup dan dibubarkan, setelah semua yang hadir setuju dan sepakat atas keputusan yang sudah ditetapkan. Besok pagi mereka secara bersama-sama akan memungut buah durian yang jatuh semalam, kemudian pulang kembali kecrumah masing-masing untuk beristirahat bersama keluarga mereka.

***

Cahaya matahari telah menerangi Dusun Durian, sebagian penduduk berkumpul membawa perlengkapannya. Mereka bersiap untuk pergi menuju tempat di mana pohon durian itu tumbuh, semangat terlihat diwajah mereka yang berseri-seri seperti cerahnya hari ini.

Pohon durian yang sangat tinggi dan besar terlihat dari dusun mereka, semua peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk membawa buah durian yang sangat besar itu sudah siap. Mereka bergerak menuju ketempat pohon durian itu tumbuh, meskipun jarak yang akan ditempuh cukup jauh tidaklah melemahkan semangat mereka.

Selama di perjalanan rombongan itu bercerita dan bercanda sepanjang jalan untuk menghilangkan rasa lelah, kadangkala terdengar tawa mereka memecah kesunyian hutan belantara. Tak terasa perjalanan mereka sudah hampir sampai ditujuan, mereka segera mempercepat langkahnya.

Begitu sampai ditujuan mereka sangat terkejut, karena buah durian yang besar itu tak terlihat dan ditemukan seperti ditelan bumi. Buah durian yang besar itu tak mungkin bisa lenyap begitu saja, sebab mereka menemukan bekas ada buah durian yang jatuh semalam.

Mereka terus mencari dan mencari sampai cukup jauh radiusnya dari pohon durian itu tumbuh. Setelah cukup lama mereka berusaha mencari dan akhirnya mereka menemukan jejak yang ada di tanah.

Mereka mengikuti jejak yang diperkiran sebagai tempat lewatnya buah durian, namun jejak itu hilang pada saat sampai di tepian Sungai Ogan. Menurut mereka tak mungkin buah durian sebesar itu bisa berjalan sendiri, tentu ada yang menariknya untuk dibawa pergi. Secara cepat, mereka mendapatkan suatu kesimpulan, bahwa ada sekelompok orang yang telah mencuri dan ingin memiliki buah durian langka itu.

Perasaan kesal dan kecewa berkecamuk di dada, rombongan itu kembali dengan tangan kosong, selama dalam perjalanan pulang tidak ada yang berbicara, mereka bergeaut dengan perasaan dan pikirannya masing-masing. Jalan pulang yang mereka tempuh terasa begitu panjang, kicau burung di hutan belantara itu terdengar sumbang di telinga mereka.

Begitu sampai di dusun, mereka menceritakan secara rinci kejadian dan peristiwa yang ditemui hari ini. Mendengar cerita dan penjelasan itu, membuat penduduk di Dusun Durian tersulut emosi dan marah. Dusun mereka yang selama ini aman dan tenteram telah terusik oleh tangan orang-orang yang tak bertanggung jawab, kejadian ini tidak boleh dibiarkan dan harus cepat ditanggulangi supaya tidak terulang kembali.

Menurut cerita,  tidak begitu jauh dari jarak pohon durian itu tumbuh,  ada sebuah makam Seorang Perempuan istri dari Seorang Ulama dari Banten. Sejak setelah puluhan tahun menikah, mereka belum juga dikarunia seorang anak. Atas izin suaminya dan bukan karena bercerai, dia pulang ke Pulau Sumatera dan kembali ke tanah kelahirannya Dusun Bantaiyan. Tapi baru beberapa tahun dia kembali, dia telah pulang ke Rahmatullah memenuhi panggilan Sang Khalik.

Semasa hidupnya, istri ulama tersebut membagikan ilmu dan pengetahuannya yang dia dapat dan dipelajarinya selama berada  di Banten. Tanpa mengenal lelah, dengan suka dukanya yang dialami, dia memberikan dakwah dan mengenalkan ajaran Islam untuk penduduk dusun ini.

Setelah dia wafat dan dikebumikan, timbul suatu keajaiban atas kehendak yang Maha Kuasa. Selama tujuh hari tujuh malam, makam Istri Ulama itu memancarkan cahaya yang terang benderang, sehingga penduduk Dusun Durian itu samapi tidak dapat membedakan apakah hari siang ataupun malam. Satu keanehan lagi tanah di makam itu selalu bertambah tinggi, sehingga makam itu menjadi cerita tentang seorang muslimah penghuni syurga. Setelah tujuh hari tujuh malam berlalu, maka cahaya terang benderang itupun hilang, begitu juga tanah makam tidak lagi meninggi.

Pada suatu malam yang cerah, bintang-bintang berkelip sangat indah menghiasi langit. Cahaya purnama begitu lembut menyentuh pepohonan, semak dan perdu menari dibelai angin malam. Ditambah lagi suara unggas malam bersenandung merdu, semua yang ada memuji Keagungan-Nya.

Rupanya keindahan dan kedamaian malam ini,  dimanfaatkan oleh sekelompok orang dari dusun lain dengan niat tersembunyi. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya, agar apa yang mereka inginkan dapat berhasil. Sejak tadi mereka sudah berada dihutan tempat pohon durian itu tumbuh, supaya tidak terlihat mereka  mengendap-endap dikesunyian malam dibalik rimbunnya semak belukar.

Perkiraan mereka sudah ada buah durian yang jatuh, sehingga mereka datang untuk mencurinya tanpa sepengetahuan. Sungguh tepat naluri mereka sebagai pencuri, karena darikejauhan sudah terlihat ada sebuah durian yang jatuh tergeletak ditanah. Dibawa sinar purnama terlihat bayangan para pencurisedang bersiap-siao untuk melakukan aksinya, sambil mengendap-endap mendekati buah durian tersebut.

Dibalik buah durian yang besar itu mereka bersembunyi, memerikasa dan memperhatikan keadaan disekelilingnnya dengan seksama dan teliti. Ini dilakukan untuk menjaga segala kemungkinan yang bisa saja terjadi, mereka tidak ingin perbuatannya sampai ketahuan penduduk.

“ Cepat ikat buah duriannya…!, kita tarik secepatnya kearah sungai…! “. Terdengar pelan setengah berbisik salah seorang dari mereka aba-aba, pencuri itu dengan sigap dan cekatan melakukan tugasnya.

Belum selesai mereka mengikat buah durian itu, tiba-tiba saja semuanya dikejutkan oleh suatu benda bercahaya dari angkasa. Benda itu melesat dengan kecepatan tinggi turun dari langit menuju bumi, jatuh disebelah Timur Dusun Durian tidak jauh dari Pohon durian itu tumbuh. Ternyata benda bercahaya itu jatuh tepat dimakam tersebut. Kembali cahaya terang benderang itu bersinar seakan-akan keluar dari dalam makam.

Para pencuri menjadi sangat ketakutan, keringat dingin mengucur deras ditubuh mereka. Mulut mereka seakan-akan terkunci rapat, sehingga tidak ada kata-kata yang sanggup diucapkan. Mereka terpaku dalam kebingungan mengalami kejadian ini, walaupun tubuh masih masih gemetar mereka berusaha menenangkan diri.

Ketakutan mereka semakin menjadi-jadi, karena benda yang jatuh itu cahayanya sangat terang benderang. Begitu terangnya cahaya itu menyebar dihutan tempat pohon durian itu tumbuh, membuat penghuni hutan menjadi riuh dan panik. Saat itu juga para pencuri tidak dapat membedakan, apakah waktu itu siang hari atau malam hari.

Sayang sekali tidak seluruh penduduk Dusun Durian dapat menyaksikan peristiwa ini, karena kebanyakan dari mereka telah tertidur pulas. Anehnya, cahaya itu tidak pernah pudar dan terus bercahaya, kilau cahayanya sampai menerangi Dusun Durian. Kegaduhan sempat terjadi di Dusun Durian, mereka yang menyaksikan keanehan itu berupaya dengan segala cara membangunkan seluruh warga. Hasilnya seluruh warga terjaga dari tidurnya, mereka berhamburan keluar dari rumah, walau dihinggapi perasaan was-was dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Kerio dan Sesepuh segera mengumpulkan seluruh warganya, supaya tidak terjadi kepanikan penduduk didusun mereka. Mereka begitu cepat tanggap didalam menghadapi situasi ini, karena mereka tidak mau warganya menjadi panik dan takut. Setelah semua warga dapat berkumpul dan sedikit tenang, barulah Kerio dan Sesepuh memberikan pengertian dan penjelasan buat mereka. Agar tetap tenang dan tidak panik didalam menghadapi situasi apapun yang terjadi, bila sedang mendapat  permasalahan yang datang menghampiri.

Fenomena alam memang sering terjadi pada rotasi alam semesta. Semua tidak perlu membuat kita cemas dan takut. Kejadian ini bukanlah sebagai suatu pertanda, bahwa hari kiamat sudah tiba waktunya.

“ Saudara- saudara …..!, kita tidak perlu cemas ataupun khawatir atas kejadian ini….! “ . Salah seorang diantara para Sesepuh angkat bicara, memberikan ketenangan dan mengusir rasa takut warganya.

“ Saudara-saudara…. !. Perlu kalian semua ketahui, bahwa yang jatuh dari angkasa raya itu adalah  Batu Bintang  atau pecahan batu meteor). Pernah kita mendengar bahwa ada Bintang jatuh ke bumi. Nah, sekarang terjadi di tempat kita dan tidak perlu kita merasa takut dan panik“ .  Penjelasan dan pengertian yang diberikan Sesepuh dapat memberikan ketenangan warganya, rasa takut dan khawatir berangsur-angsur lenyap dari mereka.

Begitu mendapat pengertian dan penjelasan dari orang-orang yang menjadi panutan mereka selama ini,  barulah penduduk Dusun Durian dapat bernafas lega. Setelah suasana kembali tenang dan tidak terlihat lagi gejolak kegelisaan warganya, disarankan oleh Kerio dan para Sesepuh untuk kembali dan beristirahat. Sebab besok pagi secara bersama-sama akan pergi mencari lokasi, letak jatuhnya batu bintang itu. Malam semakin larut dan dingin malam mulai menyelimuti dusun Durian, kini hanya ada keheningan dan kesunyian malam yang menghampiri. Penduduk Dusun Durian tertidur lelap dipembaringannya, mereka dapat beristirahat dengan tenang dan damai.

Lain halnya lagi dengan para pencuri yang ada di hutan tempat pohon durian tumbuh. Mereka diselimuti rasa gelisah dan takut dengan kejadian malam ini. Cahaya terang yang terpancar dari batu bintang berada tepat di makam membuat para pencuri semakin takut, karena mereka tidak dapat bersembunyi lagi. Mereka khawatir keberadaannya pasti dapat diketahui warga. Rasa kesal  dan takut pun membaur menjadi satu di hati para pencuri. Niat jahat yang sudah direncanakan dengan matang mustahil dibatalkan. Mereka berusaha memadamkan cahaya terang benderang dari batu bintang tersebut, namun segala usaha tidaklah membawa hasil yang diharapkan.

Sisa tenaga para pencuri itu seperti hampir terkuras habis. Mereka tetap berusaha mencari jalan supaya cahaya batu bintang itu memudar. Hasilnya tetap nihil dan batu bintang seakan-akan bertambah terang benderang cahayanya. Hati mereka semakin gusar. Para pencuri akhirnya terduduk lemas dengan nafas tersengal-sengal. Rasa putus asa itu pun menimbulkan kebencian mendalam terhadap batu bintang  yang berada tepat di makam tersebut. Sebab dengan adanya cahaya dari batu bintang ini, membuat kesempatan mereka untuk menjalankan aksinya menjadi terhalang dan terhambat.

Pada akhirnya, para pencuri pun bersepakat untuk melakukan perbuatan yang tidak semestinya.  Batu Bintang yang bercahaya, yang berada tepat di makam  itu  mereka kencingi secara bergantian. Mereka juga mencaci-maki dan segala macam bentuk umpatan keluar dari mulut mereka sebagai wujud kekesalan dan kebenciannya.

Sungguh sangat mengherankan, begitu para pencuri usai melakukan kenekadannya. Secara tiba-tiba datang gemuruh angin yang sangat kencang, pohon-pohon bergoyang dengan hebat bahkan ada yang tumbang diterpa angin. Para pencuri sangat terkejut dan perasaan takut kembali menghantui, apalagi mendadak keadaan di hutan tempat tumbuh pohon durian dan jatuhnya batu bintang menjadi gelap gulita.

Cahaya purnama tak sanggup menembus kepekatan yang menyelimuti tempat itu. Hitam dan kelam suasana menyeramkan menyengkram di hutan tempat peristiwa ini terjadi. Berapa lama kegelapan menyelimuti tempat itu. Dan tak seorangpun yang tahu, kini cahaya purnama perlahan-lahan sudah kembali menerangi bumi. Para pencuri dapat sedikit merasa lega, karena cahaya dari rembulan dapat dijadikan sebagai penerangan bagi mereka dalam menjalankan rencananya.

Tak lama kemudian, para pencuri baru menyadari hasil dari perbuatan nekad mereka. Batu bintang yang berada dimakam itu  telah memudar cahayanya dan akhirnya hilang tak bercahaya lagi. Sungguh aneh setelah dikencingi para pencuri, Batu bintang yang ada dimakam itu hilang cahayanya dan menjadi batu karang biasa.

Para pencuri menari mengelilingi batu bintang yang telah menjadi batu karang biasa, sambil tertawa terbahak-bahak dan berjingkrak kegirangan sampai lupa diri. Setelah puas dengan kesenangannya, barulah mereka teringat untuk mencuri buah durian sesuai rencana mereka semula. Suatu keajaiban pun telah terjadi di tempat ini. Buah durian besar yang tergeletak di tanah hilang entah kemana. Pohon durian tinggi besar yang tumbuh di hutan ini juga telah lenyap bagaikan ditelan bumi. Semua telah musnah dan hanya meninggalkan bekas atau jejak keberadaannya.

Para pencuri itu kembali kebingungan dan berteriak histeris. Karena ketakutan yang sangat berlebihan atas peristiwa yang dialami. Para pencuri itu ingatannya seperti terganggu, mereka berlari kesana kemari sambil menari dan tertawa sejadi-jadinya. Batin mereka begitu tergoncang menghadapi kenyataan yang mereka temui disini, lalu mereka berlarian di kegelapan malam dan lebatnya hutan belantara.

Rembulan telah kembali keperaduannya, kini matahari muncul dikaki langit. Hari yang cerah menghiasi Dusun Durian, mereka telah berkumpul pagi ini sesuai dengan kesepakatan mereka semalam. Mereka akan pergi kehutan tempat tumbuhnya pohon durian dan mencari dimana jatuhnya batu bintang semalam.

Mereka semua sangat terkejut ketika melihat ke arah hutan rimba, pohon durian yang selama ini menjulang tinggi tidak nampak lagi dari dusun mereka. Kerio dan para Sesepuh memutuskan untuk segera berangkat  ke hutan tempat pohon durian dan batu bintang jatuh, dengan bergegas mereka pergi untuk mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi.

Sesampainya mereka di sana, perasaan heran dan tidak mengerti berkecamuk didiri mereka. Pohon durian yang menjadi kebanggaan mereka telah hilang, hanya menyisakan bekas jatuhnya buah durian. Di tempat itu,  mereka menemukan jejak kaki yang tak beraturan di sana sini, juga sobekan kain tersangkut di ranting dan tali temali yang berserakan.

Mereka bergerak ketempat batu bintang yang jatuh di dekat makam. Di sini juga, mereka menemukan jejak kaki mengelilingi batu bintang yang tidak memancarkan cahaya lagi. Batu bintang ini sudah menjadi batu karang biasa.

Menurut pendapat salah seorang sesepuh yang ikut dalam rombongan itu, bahwa ada sekolompok orang ingin mencuri buah durian seperti yang pernah terjadi. Niat buruk mereka itu tak kesampaian, karena batu bintang yang jatuh dekat makam malam itu,  cahayanya sangat terang benderang. Mungkin mereka takut ketahuan, lalu mereka panik dan berlarian tak tentu arah.

Mengenai lenyapnya pohon durian yang sangat mereka sayangi, menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Sifat segelintir manusia yang tamak dan serakah membuat Yang Maha Kuasa menjadi murka. Kejadian ini tentu sebagai teguran kepada masyarakat.

Apabila pohon itu tetap ada, maka tidak menutup kemungkinan nanti ada sekelompok manusia yang memuja pohon itu. Jadi, Yang Maha Kuasa tidak ingin iman hambanya akan terkikis munuju kesesatan.  Oleh karena itu, mereka harus mengikhlaskan pohon durian itu lenyap atas kehendaknya. Mengenai orang-orang serakah dan tamak yang ingin mencuri pohon durian itu harus kita maafkan kesalahannya, biar Yang  Maha Kuasa memberi balasan yang setimpal dengan perbuatannya.

Menjelang siang, rombongan penduduk dari Dusun durian kembali ke dusunnya, hari ini mereka telah mendapatkan pelajaran yang sangat berarti didalam meniti kehidupan yang masih tersisa. Selama dalam perjalanan pulang mereka tak henti-hentinya berdoa, agar anak cucu dan keluarga mereka nantinya tidak menjadi manusia yang dimurkai Sang Pencipta.

Sampai di dusun Durian, Sesepuh yang ikut dalam rombongan itu, segera mengumpulkan seluruh warganya untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Hilangnya pohon durian itu janganlah dirisaukan dan jadi pikiran lagi, karena semua yang terjadi adalah atas kehendakNya

Demikianlah cerita batu bintang yang hidup dikalangan masyarakat Dusun Durian. Dari dulu sampai sekarang, selalu diceritakan secara turun temurun oleh mereka kepada anak cucu dan keturunannya. Dengan jatuh Batu bintang tepat didekat sebuah makam, maka makam itu disebut Kuburan Puyang Batu Bintang.

Puluhan tahun telah berlalu. Pada zaman penjajahan Belanda, datanglah utusan Resident dari Palembang, menemui Depati Bustan Urip yang yang pada masa itu berada di Lubuk Rukam. Orang Belanda yang datang sebagai utusan itu pergi ke makam Puyang Batu Bintang, dia mengambil batu itu dan dibawah Palembang untuk dianalisa. Adapun batu bintang yang melegenda itu keberadaannya tidak diketahui rimbanya, masih ada di Palembang atau berada di Belanda.

Kalau kita pergi ke Dusun Durian, kita hanya bisa melihat tempat dan bekasnya. Dimana batu bintang tersebut jatuh. Begitu juga tanah yang meninggi di Makam Puyang Batu Bintang, berangsur-angsur menurun terkikis zaman. Cerita ini sekaligus penggambaran yang menandakan bahwa manusia tercipta dengan segala aneka ragam bentuk dan rupa serta sifatnya dalam berperilaku, semua ini telah tertulis sejak dahulu kala. Dimana sifat sebagian manusia yang tidak pernah merasa puas akan nafsunya, sehingga kurang mensyukuri nikmat dan karunia yang telah diberikan-Nya.

Diantara manusia ada yang mempunyai sifat tamak dan tidak mau berbagi. Segala macam perbuatan dihalalkan dan boleh dilakukan demi untuk kenikmatan dan kepentingan pribadi tanpa memikirkan orang lain. Manusia sudah lupa apa yang akan diterimanya sebagai balasan. Mereka mencari kepuasan dan kenikmatan semu di dunia. Menuruti segala macam bentuk bujuk rayu Iblis dan setan penghuni neraka jahanam.

SEKIAN